Jumat, 10 Januari 2014

jangan dipandang ilmu pengetahuan itu di pandang dari barat


RELEVANSI ILMU PENGETAHUAN MENURUT HADITS
A.  Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Rasulullah
“Sejarah Islam mencatat bahwa studi Islam telah berkembang sejak masa awal dunia Islam. Tumbuhnya lembaga pendidikan diilhami oleh ajaran Islam itu sendiri, yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan kewajiban bagi setiap muslim”.[1] Kewajiban tersebut mencakup kepada muslim laki-laki dan muslim perempuan, dan tidak adanya pembedaan ilmu dalam hal wajibnya.
“Nabi Muhammad Saw. memasukkan berbagai macam materi kepada umatnya, seperti kesehatan kekuatan jesmani yang dimasukkan dalam  kurikulum pendidikannya. Secara praktis shalat, wudhu’, mandi, puasa, dan haji telah mengandung pendidikan kesehatan dan kekuatan  fisik. Selain itu, Nabi juga mengajarkan agar makan dan minum secara sederhana, tidak berlebihan. Nabi juga mengajak mempelajari cara berperang, tentu saja tujuan utamanya untuk persiapan pembelaan diri. Akan tetapi, ini juga dapat diartikan pendidikan tersebut adalah pendidikan kesehatan dan kekuatan jesmani”.[2]
“Nabi mengajarkan cara memanah, sampai Rasulullah berpesan bahwa siapa yang telah mempelajari memanah kemudian ia melupakannya maka bukanlah dia golongan kami. Selain memanah, Nabi juga mengajarkan menunggang kuda, Pengajaran memanah dan menunggang kuda itu menjelaskan bahwa Nabi memasukkan materi kesehatan dan olahraga ke dalam kurikulumnya. Materi ini, dilihat dari sudut pendidikan, bertujuan membentuk jesmani yang sehat dan kuat”.[3]
“Sebelum lahir agama Islam, penduduk Hijaz telah belajar membaca dan menulis dari penduduk Hirah, penduduk Hirah belajar pada penduduk Himyariyin. Penduduk Mekkah yang mula-mula belajar membaca dan menulis ialah Sufyan bin Umayyah dan Abu Qais bin Abdu Manaf. Kedua-duanya belajar pada Bisyri bin Abdu al-Malik. Setelah pandai membaca dan menulis, lalu mengajarkannya kepada penduduk Mekkah. Ketika  Nabi Muhammad menyiarkan agama Islam di Mekkah sudah ada 17 orang penduduk Mekkah yang pandai baca tulis, diantaranya Umar bin Kahttab, Ali  bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abu ‘Ubaidah bin aj-Jarrah, Abu Sufyan bin Harb, Mu’awwiyah bin Abi Sufyan, Hafsah Istri Nabi, Ummi Kalsum binti Uqbah, ‘Aisyah binti Sa’id. Di Madinah ada orang yang mengajarkan baca tulis kepada anak-anak, yaitu orang Yahudi. Tatkala Islam datang ke Madinah, ia menyuruh orang-orang yang pandai baca tulis untuk menuliskan ayat-ayat al-qur’an yang diturunkan Allah”.[4]
“Lembaga-lembaga pendidikan Islam juga ditantang oleh pertumbuhan teknologi yang sangat pesat. Kepercayaan yang mendalam terhadap akal meremehkan otoritas tradisi, dan menjadikan manusia tergantung pada penemuan ilmu pengetahuan. Banyak pemikir dunia mengatakan bahwa krisis yang ada sekarang ini disebabkan oleh ilmu pengetahuan modern dan penerapan teknologi tinggi. Mereka yakin bahwa agama-agama yang pernah memiliki otoritas atas manusia, harus memberikan sumbangan untuk membawa manusia kepada jalan keselamatan di masa depan. Dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam sebagai salah satu pusat bagi kemajuan menusia harus mengambil peran dalam membangun jalan tersebut demi kemanusiaan”.[5]
Pada dasarnya, semua ilmu pengetahuan telah Islami yang sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan adalah hukum-hukum  alam yang tunduk pada sunnatullah. Pembuktian teori-teori yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains  kesalahan adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusia, tetapi kebohongan adalah bencana.
B.  Jenis-Jenis Ilmu Pengetahuan Menurut Hadits
1.    Ilmu agama
Rasulullah Saw. bersabda:
حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ خَطِيْبًا يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ ...(رواه البخاري)
Artinya:   Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ufair, ia berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab ia berkata, berkata oleh Humaid bin ‘Abdi ar-Rahman aku mendengar Mu’awiyah ketika berkhatib ia mengatakan aku telah mendengar Nabi Muhammad Saw. bersabda siapa saja yang dikehendaki oleh Allah akan kebaikan, niscaya Allah memberi pemahaman terhadapnya tentang agama . . . (H.R. Bukhari)[6]

Hadits tersebut menyebutkan bahwa pentingnya untuk pemahaman tentang agama, karena agama merupakan  merupakan hal yang sangat esensial untuk ditanamkan pada diri seseorang. Maka dari itu ilmu pengetahuan tentang agama tidak bisa diasingkan dari seseorang yang merupakan pedoman bagi segala hal demi kesuksesan dunia dan akhirat. Karena untuk membela agama tanpa ilmu pengetahuan yang kuat tidak akan berhasil, bahkan akan beralih kepada sesat menyesatkan disebabkan agama itu dipegang oleh orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan.
2.    Shalat
Ilmu tentang shalat merupakan ilmu berupa ‘amaliyah yang paling dasar harus dimiliki seseorang, karena shalat itu adalah tiang untuk memperkokoh agama dan merupakan amal yang paling utama dipertanggungjawabkan dan dipetanyakan di akhirat kelak, maka atas dasar itu ilmu tentang shalat harus ditanamkan pada diri seseorang sedini mungkin.
Hadits Rasulullah Saw. :
وَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ "مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِاالصَّلَاةِ وَ هُمْ أَبْنَاءُ سَبْعَ سِنِيْنَ وَ اضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَ هُمْ أَبْنَاءُ عَشْرَ سِنِيْنَ وَ فَرَّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ (رواه ابو داود)
Artinya:   Dari ‘Umar ibn Syu’aib dari ayahnya dari neneknya telah berkata: bersabda Rasulullah Saw., “Suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau melaksanakan shalat ketika berumur 10 tahun, dan pisahkanlah diantara mereka itu dari tempat tidurnya.” (H.R. Abu Daud)[7]

“Hadits ini menjelaskan bahwa memberikan pengetahuan tentang shalat ketika anak berumur  7 tahun hingga 10 tahun, dengan cara menyuruh mereka untuk melaksanakan shalat. Kemudian ketika seorang anak menginjak kepada usia 10 tahun maka insting yang dimilikinya sedang menuju  ke arah perkembangan dan ingin membuktikan eksistensi dirinya. Oleh karena itu, seseorang harus mengarahkannya dengan baik sehingga tidak akan terjadi kerusakan dan penyimpangan pada diri anak, salah satunya adalah dengan cara memisahkan tempat tidur mereka antara laki-laki dan perempuan”.[8]
3.    Militer, pendidikan jesmani dan kesehatan
Nabi Muhammad Saw. juga mengajak untuk mempelajari cara berperang, yang tujuan utamanya adalah untuk pembelaan diri. Namun, ini juga dapat diartikan dengan pendidikan kesehatan dan jasmani. Rasulullah Saw. bersabda:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ, حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ, حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ ابْنُ إِسْحَاقِ عَنْ عبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى حُسَيْنِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: (إِنَّ اللهَ لَيُدْخِلَ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلَاثَةَ الْجَنَّةِ:صَانِعَهُ يَحْتَسِبُ فِى صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ, وَ الرَّامِى بِهِ, وَ الْمُمِدَّ بِهِ, قَالَ ارْمُوْا وَ ارْكَبُوْا وَ لَأَنْ تَرْمُوْا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوْا. كُلُّ مَا يَلْهُوْبِهِ الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ بَاطِلٌ إِلَّا رَمْيَهُ بِقَوْسٍ, وَ تَأْدِيْبَهُ فَرَسَهُ, وَ مَلَاعَبَتَهُ أَهْلَهُ, فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ). (رواه الترمذى)
Artinya:   Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, telah menceritakan kepada kami Yajid bin Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnu Ishaq dari ‘Abdullah bin ‘Abdu ar-Rahman bin Abi Husain bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: sesungguhnya Allah memasukkan ke Syurga dari salah satu tiga bahagian: yaitu orang yang bekerja dalam pekerjaan yang baik, dan seorang pemanah, dan orang yang memberikan pertolongan. Rasulullah mengatakan panahlah olehmu dan berkendaraanlah kamu, dan sungguh engkau memanah lebih aku sukai dari pada engkau seorang pengendara. Segala sesuatu yang dipermainkan oleh seorang laki-laki muslim itu bathil melainkan seseorang yang memanah dengan anak panah dan orang yang melatih kudanya dan bermain sesuai dengan ahlinya maka seluruhnya itu adalah hak. (H.R. at-Tirmidzi)[9]

Agama Islam mengajak untuk memiliki kekuatan yang baik, karena dengan adanya kekuatan, rohani, akal dan jesmani yang baik akan dicintai oleh Allah. Hal ini sangat dibutuhkan untuk membina kekuatan orang-orang mukmin, mengingat banyaknya peperangan yang dihadapi oleh orang Islam, agar tetap kuat dan semangat untuk mengahadapi musuh demi untuk menegakkan agama Islam.
4.    Ilmu bahasa, filsafat, astronomi, matemika dan kedokteran.
Rasulullah Saw. bersabda:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بنُ حُجْرٍ, أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمنِ بنِ أَبِى الزِّنَادِ عَنْ أَبيْهِ, عَنْ خَارجَةَ بنِ زَيْدِ بنِ ثَابِتِ, عَنْ أبِيْهِ زَيْدِ بنِ ثَابِتِ قَالَ : أَمَرَنِى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتِ يَهُودِ وَ قَالَ إِنِّى وَ اللهِ مَا أَمَنُ يَهُوْدَ عَلَى كِتَبِى, قَالَ فَمَا مَرَّ بِى نِصْفُ شَهَرٍ حَتَّ تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُوْدِ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ, وَ إِذَا كَتَبُوْا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ. هذا حديث حسن صحيح وَ قَدْ رُوِىَ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ, وَ قَدْ رَوَاهُ الْأَعْمَشُ عَنْ ثَابِتِ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ يَقُوْلُ: أَمَرَنِى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْنِيَةَ.(رواه الترميذى).
Artinya:   Berkata Zayid bin Tsabit: Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mempelajari bahasa Ibrani untuknya guna menerjemahkan surat orang-orang Yahudi. Zaid berkata dengan nada semangat: “demi Allah, sesungguhnya akan kubuktikan kepada orang-orang Yahudi bahwa aku mampu menguasai bahasa mereka.” Zaid melanjutkan: “setengah bulan berikutnya aku mempelajarinya untuk beliau dengan tekun setelah aku menguasainya, maka aku juru tulis Nabi Saw. Maka apabila beliau berkirim surat kepada mereka, akulah yang menuliskannya, dan apabila beliau menerima surat dari mereka, akulah yang membacakan dan menerjemahkannya untuk beliau. (hadits ini hasan shahih). Menurut riwayat lain, bahwa Zaid bin Tsabit mengatakan: Rasulullah Saw. telah menyuruh aku belajar bahasa Suryani. (H.R. at-Tirmidzi).[10]

“Dalam hadits ini Nabi Saw., menganjurkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Suryani. Karena dalam sejarah peradaban bahwa banyak ilmu-ilmu Yunani yang diterjemahkan kedalam bahasa Suryani, misalnya filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam juga dituntut untuk mempelajari ilmu-ilmu filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Suryani”.[11]
Ilmu-ilmu tersebut sangat banyak manfaat untuk kesejahteraan umat Islam, seperti ilmu matematika yang diperlukan dalam memahami ilmu faraidh, ilmu kedokteran yang diperlukan untuk mengetahui jenis obat-obatan ketika diserang penyakit, dan lain sebagainya. Dalam hal ini Islam juga menaruh perhatian dalam mempelajari bahasa asing untuk berkomunikasi dengan dunia luar yang merupakan faktor penolong untuk menciptakan kerja sama antar bangsa.
5.     Ilmu kedokteran
Ilmu tentang kedokteran merupakan ilmu yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. “Kedokteran adalah keahlian yang mempelajari tentang tubuh manusia dari segi sakit dan sehatnya. Dokter berusaha menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit dengan bantuan obat-obatan dan makanan setelah diketahui dengan jelas penyakit secara khusus bagi setiap anggota badan dan sebab-sebab menimbulkannya. Dokter  juga berusaha mengetahui dengan pasti obat-obat yang ada untuk setiap penyakit, dan disimpulkan efektifitas obat-obatan dalam komposisi-komposisi serta kekuatan-kekuatannya”.[12]
Rasululah Saw. bersabda:
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ, وَ رَاشِدُ بْنُ سَعِيْدٍ الرَّمْلِىُّ, قَالَا: حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ ابْنُ مُسْلِمٍ. حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيْهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ "مَنْ تَطَبَّبَ, وَ لَمْ يَعْلَمْ مِنْهُ طِبٌّ قَبْلَ ذَلِكَ, فَهُوَ ضَامِنٌ"( رواه ابن ماجه)
Artinya:   Mewartakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar dan Rasyid bin Sa’id ar-Ramliy, mereka berkata: Mewartakan kepada kami al-Walid bin Muslim, mewartakan kepada kami Ibnu Juraij dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “barang siapa yang melakukan ilmu pengobatan, sementara ia tidak mengetahui ilmu tentang pengobatannya secara baik sebelum itu, maka dia adalah yang bertanggung jawab”. (H.R. Ibnu Majah)[13] 

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa pentingnya untuk belajar ilmu pengetahuan tentang kedokteran, karena menjadi dokter tanpa adanya ilmu pengetahuan maka akan dapat mencelakakan orang yang berobat kepadanya, dan harus mempertanggungjawabkan tindakan yang telah dilakukannya.
6.    Kesenian
Rasulullah Saw. bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ وَ هُوَ ابْنُ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ اِبْرَاهِيْمَ عَنْ أَبِى سَلَمَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ مَا اَذِنَ اللهُ لِشَيْئٍ مَا اَذِنَ لِنَبِىٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ (رواه مسلم)
Artinya:   Telah menceritakan kepada kami ‘Abdu al-‘Ajiz bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Yajid (Ibnu al-Hadi) dari Muhammad bin Ibrahim dari Abi Salamah dari Abi Hurairah bahwasanya ia telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Allah tidak mendengar sesuatu yang sama seperti mendengarnya sesuatu bagi Nabi yang bagus suaranya dalam melagukan al-qur’an dengan jelas. (H.R. Muslim)[14]

Hadits tersebut dapat kita ketahui bahwa agama Islam tidak mengabaikan dalam masalah kesenian, dan perasaan keindahan. “jikalau Islam tidak memberikan kesenian, sungguh tidak akan ada peninggalan sastra dan seni dari ulama-ulama, sastrawan-sastrawan, dan seniman-seniman kita terdahulu, yang mencakupi syair-syair, gambar-gambar, ukiran-ukiran, perhiasan-perhiasan, khat al-qur’an, dan permulaan-permulaan surah al-qur’an yang sangat indah”.[15] Dengan seni kehidupan akan menjadi indah, menenangkan jiwa, aman, senang, dan dapat membangkitkan motivasi-motivasi bagi penikmatnya, hal ini dapat dilakukan selama tidak akan membawa kepada hal yang dilarang oleh agama.
7.    Ilmu keterampilan
Keterampilan merupakan suatu pekerjaan yang paling mulia, karena Rasulullah Saw. pernah ditanyai oleh sahabat tentang usaha manakah yang paling baik, maka Rasulullah Saw. menjawab yaitu usaha seorang laki-laki yang dihasilkan dari tangannya sendiri, maka ilmu tentang keterampilan semestinya untuk dipelajari supaya mendapat kemuliaan dalam bekerja. Rasulullah Saw. bersabda:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ بْنُ رُمْحٍ, حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ نَافِعٍ, عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ, عَنْ عَائِشَةَ, أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ "إِنَّ أَصْحَابَ الصُّوَرِ يُعَذِّبُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. يُقَالَهُمْ: أَحْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ (رواه ابن ماجه)
Artinya:   Menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh, menceritakan kepada kami al-Laits bin Sa’ad dari Nafi’, dari al-Qasim bin Muhammad, dari ‘Aisyah, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “sesungguhnya para pelukis gambar (yang bernyawa) akan di’adzab pada hari kiamat nanti. Dikatakan kepada mereka: “hidupkanlah apa yang telah kalian  ciptakan!” (H.R. Ibnu Majah)[16]

Hadits tersebut menyatakan bahwa umat Islam disuruh untuk mengembangkan hasil karya seseorang, supaya hasil karya yang dimilikinya akan tetap terpelihara dan dapat dimanfaatkan. “Islam adalah agama yang unggul dalam segala aspeknya, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan, perhatiannya tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu dan kajian teoritis yang diperoleh oleh seseorang melalui belajar, tetapi perhatian agama Islam juga pada ilmu-ilmu praktis dimana seseorang akan menggunakan akal, tangan dan jari-jarinya”.[17]
8.    Astronomi

Astronami adalah “suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang gerakan bintang-bintang yang tetap dan planet-planet tentang cara gerakan itu berlangsung, astronomi menarik kesimpulan berdasarkan metode geometris tentang adanya bentuk-bentuk tertentu dan bermacam posisi lingkaran yang mengharuskan terjadinya gerakan yang dapat dilihat dengan indera itu”.[18]
Rasulullah Saw. bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةِ وَ إِسْحَقِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ وَ عَبْدُ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ أَبُوْ بَكْرِ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيِّ جُعْفِيِّ عَنْ مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِيْ بُرْدَةً عَنْ أَبِيْهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قُلْنُا جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّىَ مَعَهُ  الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَا هُنَا قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّىَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ و َ كَانَ كَثِيْرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُوْمُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَاِذَا ذَهَبَتْ النُّجُوْمُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوْعَدُ وَ أَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِى فَاِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِى مَا يُوْعَدُوْنَ وَ أَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِى فَاِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِى مَا يُوْعَدُوْنَ (رواه مسلم)
Artinya:   Telah menceritakan oleh Husain ibn ‘Ali Zu’fy dari Mujamma’ ibn Yahya dari Sa’id ibn Abi Burdah dari bapaknya ia mengatakan  kami shalat maghrib bersama Rasulullah Saw., kami mengatakan kami duduk sampai kami shalat isya’ bersamanya, maka kami duduk Rasulullah keluar kepada kami maka Rasulullah mengatakan apa yang membuat kamu disini?, kami menjawab: ya Rasulullah kami shalat maghrib bersamamu kemudian kami katakan kami duduk hingga shalat isya’ bersamamu, Rasulullah mengatakan baik. Rasulullah mengatakan seraya mengangkat kepalanya ke langit dengan waktu yang lama, maka Rasulullah mengatakan bintang itu amanah bagi langit, maka apabila bintang pergi maka datanglah langit dengan apa yang dijanjikan, dan saya amanah bagi sahabatku, maka apabila aku pergi maka sahabatku akan mendatangkan apa yang dijanjikan kepada mereka, dan sahabatku amanah bagi umatku, maka apabila sahabatku pergi maka umatku akan mendatangkan apa yang dijanjikan. (H.R. Muslim)[19]

Hadits tersebut menyebutkan bahwa Nabi Muhammad mengi’tibarkan dirinya dan sahabatnya sebagai bintang. Salah satu kajian dari ilmu astronomi adalah tentang perbintangan. “kajian menarik dari bintang adalah urgensi beredarnya bintang dengan fungsinya sebagai kompas oleh lembaga pendidikan kelautan, pengusaha travel, transportasi dan perjalanan udara pada khususnya. Allah juga telah menjelaskan jarak antara bintang-bintang mencapai jarak yang tidak tergambarkan oleh khayalan”.[20]
9.    Geologi

Geologi adalah ilmu tentang struktur, batuan, dan kerak bumi”.[21] Dalam hal ini Rasulullah telah menyinggung melalui sabdanya dengan perkataan tujuh lapis bumi yang bagiannya telah meliputi batuan, struktur, dan kerak bumi.
Rasulullah Saw. bersabda:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُوْبَ وَ قُتَيْبَةَ بْنِ سَعِيْدٍ وَ عَلِيُّ بْنُ حُجْرِ قَالُوْا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ وَ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِيْدِي عَنْ سَعِيْدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ مَنِ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ ظُلْمًا طَوَّقَهُ اللهُ إِيَّاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرْضِيْنَ ( رواه مسلم)
Artinya:   Menceritakan kepada kami Yahya ibn Ayub dan Qutaibah ibn Sa’id dan ‘Aly ibn Hujri mereka mengatakan telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu anak dari Ja’far dari ‘Ala’ ibn ‘Abdu ar-Rahman dari ‘Abbas bin Sahl ibn Sa’ad as-Sa’idy dari Sa’id ibn Jaid ibn ‘Umar ibn Nufail bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: barang siapa yang zhalim menyerobot sedikit saja tanah (milik orang lain) maka sesungguhnya ia akan dikalungkan pada hari kiamat dengan tujuh lapis bumi. (H.R. Muslim)[22]

Dalam hadits ini menjelaskan bahwa melarang berbuat zhalim, dalam hal ini berbuat zhalim dengan cara menyerobot tanah milik orang lain, maka ia akan dikenai ganjaran dikalungkan dengan tujuh lapis bumi pada hari kiamat. “Masalah tujuh lapis bumi ini akan dijelaskan melalui bukti ilmiah dari kajian fisika tentang struktur bumi bagian dalam”.[23]
Maka dari hadits tersebut yang telah menyatakan tentang tujuh lapis bumi maka dapat dipetik bahwa adanya ilmu tentang bumi untuk dapat dipelajari, karena ilmu geologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur, batuan, dan kerak bumi.
10.    Botani

Rasulullah Saw. bersabda:

عَنْ مُجَاهِدِ بْنِ جَبْرٍ, عَنْ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَّاصٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَرِضْتُ مَرْضًا, اَتَانِى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعُوْدُنِى, فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ ثَدْيَىَّ, حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا عَلَى فُؤَدِى, فَقَالَ: اِنَّكَ رَجُلٌ مَفْؤُوْدٌ, اِئْتِ الْحَارِثَ بْنَ كَلْدَةَ, اَخَا ثَقِيْفٍ, فَاِنَّهُ رَجُلٌ يَتَطَبَّبُ, فَلْيَأْخُذْ سَبْعَ تَمْرَاتٍ مِنْ عَجْوَةٍ الْمَدِيْنَةِ, فَلْيَجَأْهُنَّ بِنَوَاهُنَّ, ثُمَّ لْيَلُدَّكْ بِهِنَّ. (رواه ابو داود)

Artinya:   Dari Mujahid bin Jabr, dari Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. dia berkata: pernah aku kena suatu penyakit keras (di Makkah waktu Fathu Makkah). Lalu Rasulullah Saw. datang membesukiku. Beliau meletakkan tangannya di antara kedua susuku, sehingga aku merasakan sejuk sampai di hatiku. Selanjutnya beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu seorang laki-laki sakit hati. Datanglah kepada Harits bin Kildah, saudara Tsaqif. Dia seorang laki-laki, pandai mengobati. Lalu ambillah tujuh butir buah kurma ‘Ajwah Madinah, setelah itu tumbukkanlah semuanya sampai liat dengan bijinya, kemudian minumlah semuanya itu sebagai obat sirup”. (H.R. Abi Daud)[24]

Dari hadits tersebut menjelaskan tentang tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai obat, maka dapat dikatakan bahwa dalam hadits ini menjelaskan tentang ilmu tumbuh-tumbuhan. Buah kurma ‘Ajwah adalah sejenis buah dari  tumbuhan kurma yang dianugerahkan oleh Allah dapat dijadikan sebagai obat dengan cara meminumnya.
11.    Zoologi

 “Zoologi adalah ilmu pengatahuan tentang hewan”.[25] Dalam hal ini dapat kita lihat dalam sabda Rasulullah Saw.:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ أَعْرَابِيَّا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْهِجْرَةِ, فَقَالَ: (وَيْحَكَ, إِنَّ شَأْنَهَا شَدِيْدٌ, فَهَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ تُؤَدِّيْ صَدَقَتَهَا). قَالَ: نَعَمْ, قَالَ: (فَاعْمَلْ مِنْ وَرَاءِ الْبِحَارِ, فَإِنَّ اللهَ لَنْ يَتْرَكَ مَنْ عَمَلِكَ شَيْئًا) (رواه البخاري)
Artinya:   Diriwayatkan dari Sa’id al-Khudriy r.a.: seorang Arab Baduwi/ pedalaman bertanya kepada Rasulullah Saw. mengenai hijrah, kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “wah! Persoalan hijrah itu sangat berat, apakah kamu memiliki unta yang sudah kau bayarkan zakatnya?” Orang itu menjawab: “Ya! Saya punya dan sudah saya bayarkan zakatnya”. Rasulullah Saw. bersabda: “Bekerjalah diseberang lautan karena Allah tidak akan mengurangi pahala amalmu sedikitpun.” (H.R. Bukhari)[26]

Jika kita lihat dalam hadits tersebut lebih menjuru membicarakan tentang zakat. “Hadits tersebut tidak membicarakan masalah unta sepenuhnya, tetapi lebih menjuru kepada masalah sedekah, tetapi untuk menemukan pembicaraan unta melalui hadits dengan menggunakan pendekatan maudhû’i berdasarkan kata unta itu sendiri, maka dapat dikatakan bahwa hadits ini dapat mewakili ilmu-ilmu kealaman, dimana pada diri unta itu sendiri menjadi misteri dengan kemampuannya dapat bertahan hidup tanpa air”.[27] Maka dari hadits tersebut dapat kita katakan bahwa adanya ilmu tentang hewan atau disebut dengan zoologi, yang mencakup masalah struktur, fungsi, perilaku, serta evolusi hewan.
12.    Fisika
Kajian tentang fisika merupakan kajian ilmu mengenai zat dan energi, seperti gerakan, panas, cahaya, bunyi hingga bagian partikel-partikel yang terkecil yang umum diistilahkan dengan atom. Menurut Ibnu Khaldun Fisika adalah “suatu disiplin Ilmu yang membahas tentang tubuh-tubuh dari titik pandang gerakan dan diam yang melekat padanya. Fisika mempelajari tentang tubuh-tubuh samawi dan subtansi-subtansi elementair, sebagaimana juga pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan barang-barang tambang yang diciptakan darinya”.[28] Kajian fisika ini tidak bukan berawal dari penemuan ilmuan semata, tetapi hal ini juga telah digambarkan oleh Nabi Muhammad Saw. mengenai sesuatu yang paling kecil yang disebut dengan źarrah.
Rasulullah Saw. bersabda:
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيْدٍ, حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنِ الْأَعْمَشِ, حَدَّثَنَا عَلِىُّ ابْنُ مَيْمُوْنٍ الرَّقِّىِّ, حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ مَسْلَمَةً عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ "لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ, وَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ" (رواه ابن ماجة)
Artinya:   Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari al-‘A’masyi, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Maimun ar-Raqi, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Muslamah dari al-‘A’masyi dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari ‘Abdullah ia mengatakan: Rasulullah Saw. bersabda “tidak masuk Syurga seseorang yang dalam hatinya terdapat seberat źarrah biji sawi dari kesombongan, dan tidak masuk neraka seseorang yang dalam hatinya terdapat seberat źarrah biji sawi dari keimanan. (H.R. Ibnu Majah)[29]

“Sebagaimana ilmu-ilmu kealaman lainnya, para ilmuan menemukan atom ini pada abad ke-20 dengan temuan bahwa atom terdiri dari zat radium dan uranium serta lainnya yang terdiri dari ion-ion positif maupun negatif yang biasa disebut alpha dan gamma”.[30] Dari hadits tersebut menjelaskan bahwa siapa saja yang telah mengucapkan kalimat tahlil dan memiliki kebaikan dalam hatinya walaupun seberat dzarrah maka Allah akan mengeluarkannya dari api neraka. Begitu juga siapa saja yang memiliki keburukan walau seberat dzarrah juga tidak akan dimasukkan kedalam Syurga. Dzarrah merupakan bagian partikel yang paling kecil, dalam ilmuan dikenal dengan istilah atom.


[1] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Meillenium Baru, cet. 2 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000), hal. 22.

[2] Tafsir, Ilmu Pendidikan, hal. 58.
[3] Ibid., hal. 59.

[4] Ibid.
[5] Azra, Pendidikan Islam: Tradisi, hal. 27.

[6] Abi ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Ṣahih al-Bukhari (Bandung: Maktabah Dahlan, t.t.,) juz. I, hal. 43.
[7] Hafizh al-Munzdiry, Terjemahan Sunan Abu Dawud, terj. Bey Arifin dan Syinqithy Djamaluddin, cet. 1 (Semarang: Asy-Syifa’, 1992), juz. I, hal. 326.
[8] Saifullah dan Mohd. Nasir, Panorama Pendidikan Islam: Kajian Terhadap al-Qur’an dan al-Hadits, cet. 1 (Medan: Zai Grafika Publishing, 2009), hal. 190.
[9] Abi ‘Isya Muhammad bin ‘Isya bin Surah at-Tirmidzi, aj-Jâmi’ aṣ-Ṣahih Sunan at-Tirmidzi (Bandung: Maktabah Dahlan, t.t.,), juz. III, hal. 95.
[10] At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, hal. 167.

[11] Nasir, Panorama Pendidikan Islam, hal. 198.
[12] Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, terj. Ahmadie Thoha, cet. 1 (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), hal. 675.

[13] Abu Abdullah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, terj. Abdullah Shonhaji, cet. 1 (Semarang: Asy Syifa’, 1993), hal. 248.
[14] Abi Husain Muslim bin al-Hizaz bin Muslim al-Qusyairi Naisaburi, aj-Jami’ aṣ-Ṣahih (Semarang: Toha Putra, t.t.), juz. II, hal. 192.

[15] Nasir, Panorama Pendidikan Islam, hal. 191.
[16] Ibnu Mazah, Sunan Ibnu, hal. 13.

[17] Nasir, Panorama Pendidikan Islam, hal. 195.

[18] Khaldun, Muqaddimah, hal. 665.
[19] Abi Husain Muslim bin al-Hizaz bin Muslim al-Qusyairi Naisaburi, Ṣahih Muslim (Bandung: Maktabah Dahlan, t.t.,), juz. IV, hal. 1961.
[20] Nasir, Panorama Pendidikan Islam, hal. 202.

[21] Saliman dan Sudarsono, Kamus Pendidikan Pengajaran dan  Umum, cet. 1 (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 82.

[22] Abi Husain Muslim bin al-Hizaz bin Muslim al-Qusyairi Naisaburi, Ṣahih Muslim (Bandung: Maktabah Dahlan, t.t.,), juz. III, hal. 1230.
[23] Nasir, Panorama Pendidikan Islam: Kajian, hal. 203.

[24] Hafizh al-Munzdiry, Terjemahan Sunan Abu Dawud, terj. Bey Arifin dan Syinqithy Djamaluddin, cet. 1 (Semarang: Asy-Syifa’, 1993), juz. IV, hal. 359.
[25] Sudarsono, Kamus Pendidikan, hal. 238.

[26] Az-Zabidi, Ringkasan Hadits, hal. 342.

[27] Nasir, Panorama Pendidikan Islam, hal. 205.
[28] Khaldun, Muqaddimah, hal. 674.
[29] Abi Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qajwini Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Semarang: Toha Putra, t.t.,), juz. I, hal. 22-23.

[30] Nasir, Panorama Pendidikan Islam, hal. 206.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar